Hidayatullah.com—Umumnya kita segera pulang ke rumah
usai kesibukan kerja di kantor yang sangat menguras tenaga. Ada juga
dikalangan kita yang pulang ke rumah hanya sekedar ganti baju, lalu
kembali ke lapangan olah raga, berkumpul dengan teman geng, atau
teman-teman perkumpulan.
Tak kurang sebagaian dari kita yang pulang dan menyegerakan mandi dan
menuju halaman untuk mengurus tanaman atau hewan piaraan kesayangan.
Saat kita pulang, hanya anak-anak terlihat menyambut di pintu. Sementara isteri yang “full time house wife” itu masih melanjutkan kesibukannya yang sangat padat sejak pagi; melipat baju, menyetrika, membersihkan halaman ataumengepel lantai.
Tak nampak ada drama seperti layaknya di sinetron, bagaimana istri
menyambut dan menyediakan minuman untuk suaminya, sambil suami
merebahkan badan di sofa empuk “italian set” nya.
Bagi isteri yang juga wanita karir, berharap pulang secepatnya.
Sepanjang perjalanan berharap agar badan segera berada di depan pintu.
Namun ketika tiba di rumah, masing-masing ternyata masih juga dengan
urusannya sendiri. Alangkah ruginya kita menpunyai pasangan yang halal
tetapi hubungan kita seperti “bukan muhrim“, seolah bukan suami-istri.
Sudah lebih delapan jam lamanya kita meninggalkan rumah dan sibuk
berjibaku dengan urusan kantor, masih pula ditambah dengan hubungan yang
hambar di rumah. Tentu tak ada yang kita nikmati keindahan berkeluarga.
Sebagaimana kata-kata hikmah yang mengatakan, “Rumahku Syurgaku“.
Mengapa bisa terjadi demikian? Mari kita lihat bersama. Saat masih
baru menikah, istri kita selalu menyambut tepat di depan pintu dengan
senyum manisnya dan memimpin kita ke kursi bahkan ke bilik tidur.
Saat-saat itu, tak lupa ia bercerita banyak hal tentang
peristiwa-peristiwa yang dialami sepanjang hari.
Macam-macam ceritanya. Kadang tak terlalu penting untuk kita dengar.
Tetapi, saat itu kita dengan rela menyediakan waktu secara seksama
mendengarkannya. Bahkan dengan penuh perasaan. Tetapi, kebiasaan
seperti itu terjadi ketika masih menikmati awal keindahan pernikahan.
Tetapi seiring waktu berlalu, semuanya itu hanya tinggal kenangan.
Wahai suami-suami yang dimuliakan,
Memang kita lebih sibuk dari dia. Boleh jadi kita lebih banyak
memikirkan masalah. Bahkan mungkin jauh lebih berat dari dia. Entah
urusan masyarakat, politik sampai negara. Memang rasanya malas mendengar
ceritanya, apalagi jika itu hanya urusan-urusan kecil.Tetapi, pernahkah
kita pikirkan hasilnya jika kita mendengar barang sekejab saja saat
kita sampai di rumah?
Bahkan ketika di masa awal pernikahan dulu, di saat kita terbiasa
menjadi pendengar yang baik, meluangkan waktu sekedar lima menit untuk
mendengar ceritanya, rasanya ada energi yang ia peroleh. Bahkan
mengangguk-angguk dan berpura-pura setuju atas semua ceritanya membuat
suasana seperti lain. Dia seolah merasakan satu-satunya orang yang
beruntung dan paling bergembira hari itu.
Suasana ini otomatis akan berbalas dengan perasaan nyaman baginya.
Tentusaja berakibat pada pelayanan dan belaian kasih mesra. Kusut-masai
selama separoh harinya yang ia gunakan untuk membersihkan lantai,
merapikan rumah dan memasak menu kegemaran kita, akan terurai hanya
sekejab atas kesanggupan kita mendengarnya senua cerita ‘tidak
pentingnya’ itu.
Tak butuh waktu lama wahai para suami, hanya lima menit saja yang
perlu kita luangkan untuknya, tetapi dampaknya 24 jam untuk hari
berikutnya. Begitulah seharusnya kita jaga harmonisasi ini.
Niatkan di hati kita untuk mendengar ceritanya saat di rumah. Jika
kurang begitu penting, hindarilah singgah untuk membuang waktu yang
sesungguhnya milik keluarga. Apalagi nongrong di cafe, makan dan minum
dengan rekan kantor atau teman yang hanya akan menyebabkan perasaan
isteri kita terluka.
Ingatlah, ia telah berusaha semaksimal mungkin menarik hatimu, namun
ketika engkau sampai di rumah semuanya seolah kita tak perlu pelayannya.
Apalagi ketika pulang, dirimu sudah dalam keadaan kenyang dan dia hanya
melewatkan masa-masa indah makan bersama itu sendirian.
Tak ada salahnya bertanya hal-hal remeh padanya, “Ada berita baik
apakah hari ini?” dan dengarkan apa yang ingin ia keluhkan. Yakinlah,
sebulan saja kita amalkan, istri mu akan kembali bangkit energinya.
Tak lama, istri dan anakmu telah siap menyambut di depan pintu dengan
senyumannya yang menggoda. Tentu saja yang beruntung bukan orang lain,
tapi dirimu juga.
Jumat, 20 Juli 2012
Ayah… Ceritakanlah Kepadaku Perihal Muslimah Sejati
Seorang gadis kecil bertanya kepada ayahnya : “Ayah… ceritakanlah kepadaku perihal muslimah sejati”.
Si ayah pun menolehkan mukanya seraya melontarkan senyuman manisnya ke arah anak kecilnya itu. “Anakku… Seorang muslimah yang sejati bukanlah dilihat dari kecantikan dan keayuan paras wajahnya semata-mata. Wajahnya hanyalah satu peranan yang teramat kecil saja. Tetapi, muslimah yang sejati dilihat dari kecantikan dan ketulusan hatinya yang tersembunyi. itulah yang terbaik”.
Allah tidak melihat kepada tubuh kalian dan tidak pula kepada bentuk kalian. Allah hanya melihat kepada hati dan perbuatan kalian. (Hadis riwayat Muslim)
Si ayah terus menyambung…
“Muslimah sejati juga tidak dilihat dari bentuk tubuh badannya yang mempersonakan, tetapi dilihat dari sejauh mana ia menutupi bentuk tubuhnya yang mempersona itu. Muslimah sejati bukanlah dilihat dari sebanyak manakah kebaikan yang diberikannya, tetapi dari keikhlasan ketika ia memberikan segala kebaikan itu. Muslimah sejati bukanlah dilihat dari seberapa indah lantunan suaranya, tetapi dilihat dari apa yang sering mulutnya bicarakan. Muslimah sejati bukan dilihat dari keahliannya berbahasa, tetapi dilihat dari bagaimana caranya ia berbicara dan berhujjah kebenaran”.
Berdasarkan ayat 31, surah An-Nuur, Abdullah ibn Abbas, Ibn Omar, Atha, Ikramah dan lain-lainnya berpendapat : Seseorang wanita Islam hanya boleh mendedahkan wajah, dua tapak tangan dan cincinnya di hadapan lelaki yang bukan mahramnya. (As-Syeikh Said Hawa di dalam kitabnya Al-Asas fit Tafsir)
“Janganlah perempuan-perempuan itu terlalu lunak dalam berbicara sehingga berkeinginan (menghairahkan) orang yang ada perasaan dalam hatinya, tetapi ucapkanlah perkataan-perkataan yang baik”. (Surah Al-Ahzab : 32)
Si ayah diam sejenak sambil melihat kepada wajah manis puteri kecilnya itu.
“Lantas apa lagi ayah?” Sahut puteri kecil terus ingin tahu.
“Ketahuilah wahai puteriku… Muslimah sejati bukan dilihat dari keberaniannya dalam berpakaian grand tetapi dilihat dari sejauh mana ia berani mempertahankan kehormatannya melalui apa yang dipakainya. Muslimah sejati bukan dilihat dari kekhawatirannya digoda orang di tepi jalanan tetapi dilihat dari kekhawatiran dirinyalah yang mengundang orang lain jadi tergoda. Muslimah sejati bukanlah dilihat dari seberapa banyak dan besarnya ujian yang ia jalani tetapi dilihat dari sejauh mana ia menghadapi ujian itu dengan penuh rasa ridha dan kehambaan kepada Rabb-nya. Dan ia sentiasa bersyukur dengan segala karunia yang diberikan.”
“Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan mukmin, hendaklah mereka menundukkan pandangan mereka dan menjaga kemaluan mereka (tidak berzina atau mendekati zina)”. (Surah An-Nuur : 31)
“Dan ingatlah anakku…Muslimah sejati bukanlah dilihat dari sifat mesranya dalam bergaul, tetapi dilihat dari sejauh mana ia mampu menjaga kehormatan dirinya dalam bergaul”.
“Sesungguhnya kepala yang ditusuk dengan besi itu lebih baik daripada menyentuh kaum yang bukan sejenis yang tidak halal baginya”. (Hadis Riwayat At-Tabrani dan Baihaqi)
Setelah itu si anak kembali bertanya, “Siapakah yang memiliki kriteria seperti itu ayah…? Bolehkah saya menjadi sepertinya…? Mampukah dan layakkah saya ayah…?
Si ayah memberikannya sebuah buku dan berkata, “Pelajarilah mereka…! Supaya kamu berjaya nanti. insyaAllah kamu juga boleh menjadi muslimah yang sejati dan wanita yang sholehah kelak. Malah, semua wanita boleh”.
Si anak pun segera mengambil buku tersebut lalu terlihatlah sebaris perkataan berbunyi ISTERI RASULULLAH…
“Apabila seorang perempuan itu sembahyang lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, menjaga kehormatannya dan mentaati suaminya, maka masuklah ia ke dalam syurga daripada pintu-pintu yang ia kehendakinya”. (Riwayat Al-Bazzar)
Si ayah pun menolehkan mukanya seraya melontarkan senyuman manisnya ke arah anak kecilnya itu. “Anakku… Seorang muslimah yang sejati bukanlah dilihat dari kecantikan dan keayuan paras wajahnya semata-mata. Wajahnya hanyalah satu peranan yang teramat kecil saja. Tetapi, muslimah yang sejati dilihat dari kecantikan dan ketulusan hatinya yang tersembunyi. itulah yang terbaik”.
Allah tidak melihat kepada tubuh kalian dan tidak pula kepada bentuk kalian. Allah hanya melihat kepada hati dan perbuatan kalian. (Hadis riwayat Muslim)
Si ayah terus menyambung…
“Muslimah sejati juga tidak dilihat dari bentuk tubuh badannya yang mempersonakan, tetapi dilihat dari sejauh mana ia menutupi bentuk tubuhnya yang mempersona itu. Muslimah sejati bukanlah dilihat dari sebanyak manakah kebaikan yang diberikannya, tetapi dari keikhlasan ketika ia memberikan segala kebaikan itu. Muslimah sejati bukanlah dilihat dari seberapa indah lantunan suaranya, tetapi dilihat dari apa yang sering mulutnya bicarakan. Muslimah sejati bukan dilihat dari keahliannya berbahasa, tetapi dilihat dari bagaimana caranya ia berbicara dan berhujjah kebenaran”.
Berdasarkan ayat 31, surah An-Nuur, Abdullah ibn Abbas, Ibn Omar, Atha, Ikramah dan lain-lainnya berpendapat : Seseorang wanita Islam hanya boleh mendedahkan wajah, dua tapak tangan dan cincinnya di hadapan lelaki yang bukan mahramnya. (As-Syeikh Said Hawa di dalam kitabnya Al-Asas fit Tafsir)
“Janganlah perempuan-perempuan itu terlalu lunak dalam berbicara sehingga berkeinginan (menghairahkan) orang yang ada perasaan dalam hatinya, tetapi ucapkanlah perkataan-perkataan yang baik”. (Surah Al-Ahzab : 32)
Si ayah diam sejenak sambil melihat kepada wajah manis puteri kecilnya itu.
“Lantas apa lagi ayah?” Sahut puteri kecil terus ingin tahu.
“Ketahuilah wahai puteriku… Muslimah sejati bukan dilihat dari keberaniannya dalam berpakaian grand tetapi dilihat dari sejauh mana ia berani mempertahankan kehormatannya melalui apa yang dipakainya. Muslimah sejati bukan dilihat dari kekhawatirannya digoda orang di tepi jalanan tetapi dilihat dari kekhawatiran dirinyalah yang mengundang orang lain jadi tergoda. Muslimah sejati bukanlah dilihat dari seberapa banyak dan besarnya ujian yang ia jalani tetapi dilihat dari sejauh mana ia menghadapi ujian itu dengan penuh rasa ridha dan kehambaan kepada Rabb-nya. Dan ia sentiasa bersyukur dengan segala karunia yang diberikan.”
“Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan mukmin, hendaklah mereka menundukkan pandangan mereka dan menjaga kemaluan mereka (tidak berzina atau mendekati zina)”. (Surah An-Nuur : 31)
“Dan ingatlah anakku…Muslimah sejati bukanlah dilihat dari sifat mesranya dalam bergaul, tetapi dilihat dari sejauh mana ia mampu menjaga kehormatan dirinya dalam bergaul”.
“Sesungguhnya kepala yang ditusuk dengan besi itu lebih baik daripada menyentuh kaum yang bukan sejenis yang tidak halal baginya”. (Hadis Riwayat At-Tabrani dan Baihaqi)
Setelah itu si anak kembali bertanya, “Siapakah yang memiliki kriteria seperti itu ayah…? Bolehkah saya menjadi sepertinya…? Mampukah dan layakkah saya ayah…?
Si ayah memberikannya sebuah buku dan berkata, “Pelajarilah mereka…! Supaya kamu berjaya nanti. insyaAllah kamu juga boleh menjadi muslimah yang sejati dan wanita yang sholehah kelak. Malah, semua wanita boleh”.
Si anak pun segera mengambil buku tersebut lalu terlihatlah sebaris perkataan berbunyi ISTERI RASULULLAH…
“Apabila seorang perempuan itu sembahyang lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, menjaga kehormatannya dan mentaati suaminya, maka masuklah ia ke dalam syurga daripada pintu-pintu yang ia kehendakinya”. (Riwayat Al-Bazzar)
Sebuah Kisah Nyata Ust. Yusuf Mansur
Di suatu perjalanan dari Sukabumi menuju Jakarta, 3 bulan yang lalu, sebelum bulan Romadhon
Saat tertidur di perjalanan, terbangunlah Ust. Yusuf Mansur (di bangunkan Alloh SWT) dengan rasa kepingin pipis. Tidak jauh di depan ada sebuah SPBU, diputuskanlah untuk buang air kecil di SPBU tersebut.
Setelah mobil di parker dan turun dari mobil, terlihat berlari tergopoh-gopoh seorang satpam SPBU menghampirinya.
”Assalammualaikum pak ustad” salam si satpam.
“waalaikumsalam”, ustad menjawab.
“begini pak ustad saya ingin cerita alias ngobrol-ngobrol dengan pak ustad”, sambar si satpam. “oh ya pak nanti ya setelah saya buang air kecil, tunggu dulu aja disini sebentar”,kata ustad Yusuf sembari dia berjalan menuju toilet. Akan tetapi si satpam bukannya menunggu malahan dia mengikuti di belakang ustad, si Ustad pun mengulangi perkataannya,
”pak tunggu aja sebentar ga lama ko”.
Si satpampun nyengir sembari berkata,”saya mau solat asar dulu pak”. Ustad melihat jam tangannya yang menunjuk jam 16.55.
”baru mau solat asar? Ya sudah cepet waktu asar bentar lagi habis”. “ya pak, waktu tugas saya baru selesai jadi baru sempet solat”, jawab si satpam.
Di dalam toilet setelah selesai buang air kecil ustad Yusuf merenenung, “tadi tertidur terus kebangun karena pingin pipis, pas ada SPBU, terus mampir, terus ketemu si satpam. Pasti Allah SWT sudah menjodohkan saya dengan si satpam itu tadi. Ya sudah akan saya dengar dia mau cerita apa.”
Ustad Yusuf di ajak ngobrol di kantin SPBU
“Begini pak ustad saya udah bosen kerja di sini, saya ga betah”, kata si satpam
“lho ga betah? Udah berapa lama kerja di sini?”, Tanya Ustad
“udah 7 tahun pak”, jawab si satpam
“nah itu betah namanya,kerja udah 7 tahun”, kata ustad lagi
“bukan gitu pak, habis ga ada kerjaan lain pak”,
“terus kenapa bisa ga betah?”
“gajinya kecil pak ustad”
“emang berapa gaji?”
“gaji perbulan saya 1,7 jt”
“Alhamdulillah, segitu kurang pak?, bapak udah punya istri dan anak? pasti ada yang salah dengan bapak”, sambar Ustad Yusuf
Si satpampun nyengir kuda,”hehe,saya ambil motor pak dan saya punya istri dan seorang anak”
“ya benar tebakan saya, emang uang cicilannya berapa per bulan?”
“925.000 per bulan pak”. (pantes aja gaji kagak cukup,itu namanya besar pasak dari pada tiang)
“saya pingin hidup saya berubah pak ustad ga gini-gini aja”, lanjut si satpam.
“ada 2 syarat kalau anda pingin berubah. Yang pertama benerin dulu tuh solat bapak, bagai mana mau berubah kalo solat aja telat. Solatlah tepat pada waktunya, begitu suara adzan terdengar maka berhentilah dari semua aktivitas, bergegas ambil wudhu dan kerjakaan sholat.”
Sholat asar kurang lebih jam 15.00, tapi anda mengerjakan pukul 17.00, berarti bapak telat 2 jam. Sehari 5 waktu sholat, 2 x 5 = 10 jam, sebulan 10 x 30 = 300 jam (12,5 hari), setahun 12,5 x 12 = 150 hari (5 bln), masa kerja 7 x 5 = 35 bln (3 th). Itu baru di kali waktu kerja bapak 7 thn di SPBU, kalo di kali umur bapak sesudah masa baligh sampe sekarang? Udah habis waktu bapak sia-siakan, percepatan waktu bapak jelas kalah dengan teman-teman bapak, sodara-sodara bapak yang menunaikan ibadah solat tepat pada waktunya. Yang lain udah naik pesawat, bapak masih naik sepeda aja. Yang lain udah hidup enak bapak masih gini-gini aja.”, papar ustad Yusuf
Sambil manthuk-manthuk si satpam bertanya lagi,”syarat yang ke 2 apa pak ustad?”.
“yang ke 2 berinfak dan bersodakohlah kamu, sisihkanlah dari penghasilan bapak”.
Si satpampun nyamber,”OK pak saya mau benerin solat saya tapi untuk syarat yang ke 2 saya ga sanggup pak ustad, gimana mau infak dan sodakoh? Penghasilan saya aja pas-pasan bahkan kurang pak ustad”.
Sambil geleng-geleng pak ustad berkata,“semua makhluk yang ada di jagat raya ini sudah di atur rejekinya masing-masing oleh Alloh SWT, hewan-hewan dan tumbuhan tak terkecuali. Jangankan orang yang bekerja, pengangguran aja sudah di bagi rejekinya, apalagi yang bekerja, saya mau nanya, mana ada sekarang pengangguran yang tidak makan sehari-harinya?? Pasti makan, kalo ada yang tidak atau kurang makan, silahkan datang ke rumah saya untuk makan. Namanya syarat berarti wajib, mau berubah nasibnya ga?,
” mau pak ustad, tapi berapa sedekahnya ?”
” sebulan gaji deh ”
” sebulan gaji ? terus makan keluarga saya ?”
” gini aja bapak bilang ke atasan, bon dulu uang gaji bulan depan untuk infak dan sodakoh”. Si satpam terbengong-bengong, pertentangan batin sangatlah kuat antara iklas dan tidak, pecahlah itu perang baratayudha di dalam hatinya. Dan akhirnya sambil menghela nafas panjang si satpam berkata,”baiklah pak ustad 2 syarat tadi akan saya laksanakan dengan sebaik-baiknya, terimakasih pak ustad saya udah mengganggu waktu ustad.
“Alhamdulillah, nggak apa-apa, lakukanlah syarat tadi dengan semata-mata mengharap ridho Alloh SWT.”
Berpisahlah si satpam dengan Ustad Yusuf Mansyur.
Malam harinya si satpam gendu-gendu rasa dengan istrinya, apa-apa yang sudah di obrolin dengan Ustad Yusuf. Alhamdulillah sang istripun mendukung niatan dari suaminya dengan penuh hati.
Kemudian Pagi harinya si satpam menghadap kepada komandannya,
“ndan, saya mau ngebon uang gaji saya bulan depan, boleh ga ndan?”
“boleh aja tapi alasannya buat apa?” Tanya balik si komandan
Si satpam pun terdiam, iya iya buat apa? Masa alasan ngebon untuk infak dan sodakoh, kan ga lucu.
“heh di Tanya ko malah diam!!”, komandan menyentak
“ya ndan kemarin saya ketemu ustad yusuf mansyur, syarat untuk merubah nasib saya salah satunya bersodakoh, jadi saya ngebon mau buat sodakoh ndan”, jawabnya dengan lirih dan agak malu-malu.
Si komandannya ketawa…
“ hahaha masa kamu kasbon buat sodakoh ?, yang bener aja ? tp OK lah, nanti ya saya Tanya boz besar dulu, kan dia yang meng-ACC”.
Si komandan pun langsung bergegas menghadap boz untuk mengutarakan hajat si satpam anak buahnya.
“pagi boz, gini salah satu satpam anak buah saya, mau ngebon uang gajinya bulan depan, di ACC ga boz?”
” buat apaan ?”
” katanya sih mau di gunakan untuk sodakoh boss ”
“mau buat sodakoh?” sambil mantuk-mantuk dan cengar-cengir si boz menyambar lagi,” aneh banget, ya sudah, bilang ama dia boleh, akan saya kasih dia bon gaji bulan depan, suruh kesini dia ”
Si satpam masuk ruangan boss nya.
” katanya kamu mau kasbon gaji bulan depan dan uangnya mau buat sedekah ?”
” iya boss, saya mau merobah nasib ”
” merobah gimana ?
si satpam pun njelasin ke boss nya, kalo mau berubah nasib harus sedekah. dan si boss pun percaya gak percaya.
Singkat cerita si satpam udah mendapatkan uangnya dan telah menghabiskannya untuk berinfak dan sodakoh bagi sodara-sodara dan tetangganya yang kurang mampu.
Hari-hari pun berlalu, sampai tibalah di bulan yang baru. Alhamdulillah semua teman-temannya pada gajian, sendiri-sendiri ga gajian, karena bulan lalu udah di bon. Tapi hari demi hari berlalu, seorang teman satpamnya bertanya-tanya apakah si satpam itu tadi hidupnya serba kekurangan atau tidak, temannya pun melakukan survey, oh ternyata si satpam telah menjual motornya, pantes lempeng aja dia. Si bos pun terus bertanya-tanya sambil menunggu si satpam kenapa ga datang-datang lagi, lempeng amat tu bocah ya, merasa penasaran si bos pun memanggil si satpam untuk menghadapnya di kantin.
“gimana mau ngebon lagi ga untuk bulan depan, kan uang bulan ini udah ga ada?” tantang si bos.
“Alhamdulilah ga pak bos.”
Tiba-tiba temennya nyeletuk dari belakang,”dia abis jual motornya boz”.
“oh abis jual motor, pantes ka gak ngebon lagi.”
“ga bos saya jual motor ga buat saya dan keluarga makan bos, tetapi saya jual untuk menambahi sodakoh saya!”.elak si satpam
Tambah terbengong-bengong si bos dan penasaran,
“gini bos saya ceritain, selepas saya bersodakoh hari-hari terakhir di bulan lalu saya sempet terbesit di hati rasa was-was dan gundah. Mau makan apa saya dan keluarga saya bulan depan. Eh di awal bulan kemaren Alhamdulillah nama istri saya nyangkut di surat warisan keluarga di kampung, di situ tertera angka 17 jt untuk istri saya”.
Si bos pun nyamber lagi.”lah kenapa kamu jual itu motor?”
“saya malu sama ustad yusuf, seandainya pada saat itu saya jual motor untuk sodakoh pasti Alloh SWT akan membalasnya dengan lebih besar lagi. Alhamdulillah sekarang saya dan istri punya warung sembako di rumah sebagai usaha sampingan, semoga dengan ini nasib saya sedikit-sedikit akan berubah menjadi baik dan lebih mulia di mata Alloh SWT ”.
“Amin,”
Semoga dari cerita nyata ini dapat memotivasi teman-teman, bapak-bapak dan ibu-ibu untuk mencontoh si satpam tadi. Ada 2 syarat jika anda sekalian ingin merubah nasib anda di muka bumi ini dan mulia di mata Alloh SWT:
1. Sholat tepat waktu
2. Berinfak dan bersodakohlah dalam keadaan lapang maupun sempit dengan iklas
Kedua syarat tersebut dilakukan dengan semata-mata untuk mendapat ridho Alloh SWT.
(Narasumber: Ust. Yusuf Mansyur)
Saat tertidur di perjalanan, terbangunlah Ust. Yusuf Mansur (di bangunkan Alloh SWT) dengan rasa kepingin pipis. Tidak jauh di depan ada sebuah SPBU, diputuskanlah untuk buang air kecil di SPBU tersebut.
Setelah mobil di parker dan turun dari mobil, terlihat berlari tergopoh-gopoh seorang satpam SPBU menghampirinya.
”Assalammualaikum pak ustad” salam si satpam.
“waalaikumsalam”, ustad menjawab.
“begini pak ustad saya ingin cerita alias ngobrol-ngobrol dengan pak ustad”, sambar si satpam. “oh ya pak nanti ya setelah saya buang air kecil, tunggu dulu aja disini sebentar”,kata ustad Yusuf sembari dia berjalan menuju toilet. Akan tetapi si satpam bukannya menunggu malahan dia mengikuti di belakang ustad, si Ustad pun mengulangi perkataannya,
”pak tunggu aja sebentar ga lama ko”.
Si satpampun nyengir sembari berkata,”saya mau solat asar dulu pak”. Ustad melihat jam tangannya yang menunjuk jam 16.55.
”baru mau solat asar? Ya sudah cepet waktu asar bentar lagi habis”. “ya pak, waktu tugas saya baru selesai jadi baru sempet solat”, jawab si satpam.
Di dalam toilet setelah selesai buang air kecil ustad Yusuf merenenung, “tadi tertidur terus kebangun karena pingin pipis, pas ada SPBU, terus mampir, terus ketemu si satpam. Pasti Allah SWT sudah menjodohkan saya dengan si satpam itu tadi. Ya sudah akan saya dengar dia mau cerita apa.”
Ustad Yusuf di ajak ngobrol di kantin SPBU
“Begini pak ustad saya udah bosen kerja di sini, saya ga betah”, kata si satpam
“lho ga betah? Udah berapa lama kerja di sini?”, Tanya Ustad
“udah 7 tahun pak”, jawab si satpam
“nah itu betah namanya,kerja udah 7 tahun”, kata ustad lagi
“bukan gitu pak, habis ga ada kerjaan lain pak”,
“terus kenapa bisa ga betah?”
“gajinya kecil pak ustad”
“emang berapa gaji?”
“gaji perbulan saya 1,7 jt”
“Alhamdulillah, segitu kurang pak?, bapak udah punya istri dan anak? pasti ada yang salah dengan bapak”, sambar Ustad Yusuf
Si satpampun nyengir kuda,”hehe,saya ambil motor pak dan saya punya istri dan seorang anak”
“ya benar tebakan saya, emang uang cicilannya berapa per bulan?”
“925.000 per bulan pak”. (pantes aja gaji kagak cukup,itu namanya besar pasak dari pada tiang)
“saya pingin hidup saya berubah pak ustad ga gini-gini aja”, lanjut si satpam.
“ada 2 syarat kalau anda pingin berubah. Yang pertama benerin dulu tuh solat bapak, bagai mana mau berubah kalo solat aja telat. Solatlah tepat pada waktunya, begitu suara adzan terdengar maka berhentilah dari semua aktivitas, bergegas ambil wudhu dan kerjakaan sholat.”
Sholat asar kurang lebih jam 15.00, tapi anda mengerjakan pukul 17.00, berarti bapak telat 2 jam. Sehari 5 waktu sholat, 2 x 5 = 10 jam, sebulan 10 x 30 = 300 jam (12,5 hari), setahun 12,5 x 12 = 150 hari (5 bln), masa kerja 7 x 5 = 35 bln (3 th). Itu baru di kali waktu kerja bapak 7 thn di SPBU, kalo di kali umur bapak sesudah masa baligh sampe sekarang? Udah habis waktu bapak sia-siakan, percepatan waktu bapak jelas kalah dengan teman-teman bapak, sodara-sodara bapak yang menunaikan ibadah solat tepat pada waktunya. Yang lain udah naik pesawat, bapak masih naik sepeda aja. Yang lain udah hidup enak bapak masih gini-gini aja.”, papar ustad Yusuf
Sambil manthuk-manthuk si satpam bertanya lagi,”syarat yang ke 2 apa pak ustad?”.
“yang ke 2 berinfak dan bersodakohlah kamu, sisihkanlah dari penghasilan bapak”.
Si satpampun nyamber,”OK pak saya mau benerin solat saya tapi untuk syarat yang ke 2 saya ga sanggup pak ustad, gimana mau infak dan sodakoh? Penghasilan saya aja pas-pasan bahkan kurang pak ustad”.
Sambil geleng-geleng pak ustad berkata,“semua makhluk yang ada di jagat raya ini sudah di atur rejekinya masing-masing oleh Alloh SWT, hewan-hewan dan tumbuhan tak terkecuali. Jangankan orang yang bekerja, pengangguran aja sudah di bagi rejekinya, apalagi yang bekerja, saya mau nanya, mana ada sekarang pengangguran yang tidak makan sehari-harinya?? Pasti makan, kalo ada yang tidak atau kurang makan, silahkan datang ke rumah saya untuk makan. Namanya syarat berarti wajib, mau berubah nasibnya ga?,
” mau pak ustad, tapi berapa sedekahnya ?”
” sebulan gaji deh ”
” sebulan gaji ? terus makan keluarga saya ?”
” gini aja bapak bilang ke atasan, bon dulu uang gaji bulan depan untuk infak dan sodakoh”. Si satpam terbengong-bengong, pertentangan batin sangatlah kuat antara iklas dan tidak, pecahlah itu perang baratayudha di dalam hatinya. Dan akhirnya sambil menghela nafas panjang si satpam berkata,”baiklah pak ustad 2 syarat tadi akan saya laksanakan dengan sebaik-baiknya, terimakasih pak ustad saya udah mengganggu waktu ustad.
“Alhamdulillah, nggak apa-apa, lakukanlah syarat tadi dengan semata-mata mengharap ridho Alloh SWT.”
Berpisahlah si satpam dengan Ustad Yusuf Mansyur.
Malam harinya si satpam gendu-gendu rasa dengan istrinya, apa-apa yang sudah di obrolin dengan Ustad Yusuf. Alhamdulillah sang istripun mendukung niatan dari suaminya dengan penuh hati.
Kemudian Pagi harinya si satpam menghadap kepada komandannya,
“ndan, saya mau ngebon uang gaji saya bulan depan, boleh ga ndan?”
“boleh aja tapi alasannya buat apa?” Tanya balik si komandan
Si satpam pun terdiam, iya iya buat apa? Masa alasan ngebon untuk infak dan sodakoh, kan ga lucu.
“heh di Tanya ko malah diam!!”, komandan menyentak
“ya ndan kemarin saya ketemu ustad yusuf mansyur, syarat untuk merubah nasib saya salah satunya bersodakoh, jadi saya ngebon mau buat sodakoh ndan”, jawabnya dengan lirih dan agak malu-malu.
Si komandannya ketawa…
“ hahaha masa kamu kasbon buat sodakoh ?, yang bener aja ? tp OK lah, nanti ya saya Tanya boz besar dulu, kan dia yang meng-ACC”.
Si komandan pun langsung bergegas menghadap boz untuk mengutarakan hajat si satpam anak buahnya.
“pagi boz, gini salah satu satpam anak buah saya, mau ngebon uang gajinya bulan depan, di ACC ga boz?”
” buat apaan ?”
” katanya sih mau di gunakan untuk sodakoh boss ”
“mau buat sodakoh?” sambil mantuk-mantuk dan cengar-cengir si boz menyambar lagi,” aneh banget, ya sudah, bilang ama dia boleh, akan saya kasih dia bon gaji bulan depan, suruh kesini dia ”
Si satpam masuk ruangan boss nya.
” katanya kamu mau kasbon gaji bulan depan dan uangnya mau buat sedekah ?”
” iya boss, saya mau merobah nasib ”
” merobah gimana ?
si satpam pun njelasin ke boss nya, kalo mau berubah nasib harus sedekah. dan si boss pun percaya gak percaya.
Singkat cerita si satpam udah mendapatkan uangnya dan telah menghabiskannya untuk berinfak dan sodakoh bagi sodara-sodara dan tetangganya yang kurang mampu.
Hari-hari pun berlalu, sampai tibalah di bulan yang baru. Alhamdulillah semua teman-temannya pada gajian, sendiri-sendiri ga gajian, karena bulan lalu udah di bon. Tapi hari demi hari berlalu, seorang teman satpamnya bertanya-tanya apakah si satpam itu tadi hidupnya serba kekurangan atau tidak, temannya pun melakukan survey, oh ternyata si satpam telah menjual motornya, pantes lempeng aja dia. Si bos pun terus bertanya-tanya sambil menunggu si satpam kenapa ga datang-datang lagi, lempeng amat tu bocah ya, merasa penasaran si bos pun memanggil si satpam untuk menghadapnya di kantin.
“gimana mau ngebon lagi ga untuk bulan depan, kan uang bulan ini udah ga ada?” tantang si bos.
“Alhamdulilah ga pak bos.”
Tiba-tiba temennya nyeletuk dari belakang,”dia abis jual motornya boz”.
“oh abis jual motor, pantes ka gak ngebon lagi.”
“ga bos saya jual motor ga buat saya dan keluarga makan bos, tetapi saya jual untuk menambahi sodakoh saya!”.elak si satpam
Tambah terbengong-bengong si bos dan penasaran,
“gini bos saya ceritain, selepas saya bersodakoh hari-hari terakhir di bulan lalu saya sempet terbesit di hati rasa was-was dan gundah. Mau makan apa saya dan keluarga saya bulan depan. Eh di awal bulan kemaren Alhamdulillah nama istri saya nyangkut di surat warisan keluarga di kampung, di situ tertera angka 17 jt untuk istri saya”.
Si bos pun nyamber lagi.”lah kenapa kamu jual itu motor?”
“saya malu sama ustad yusuf, seandainya pada saat itu saya jual motor untuk sodakoh pasti Alloh SWT akan membalasnya dengan lebih besar lagi. Alhamdulillah sekarang saya dan istri punya warung sembako di rumah sebagai usaha sampingan, semoga dengan ini nasib saya sedikit-sedikit akan berubah menjadi baik dan lebih mulia di mata Alloh SWT ”.
“Amin,”
Semoga dari cerita nyata ini dapat memotivasi teman-teman, bapak-bapak dan ibu-ibu untuk mencontoh si satpam tadi. Ada 2 syarat jika anda sekalian ingin merubah nasib anda di muka bumi ini dan mulia di mata Alloh SWT:
1. Sholat tepat waktu
2. Berinfak dan bersodakohlah dalam keadaan lapang maupun sempit dengan iklas
Kedua syarat tersebut dilakukan dengan semata-mata untuk mendapat ridho Alloh SWT.
(Narasumber: Ust. Yusuf Mansyur)
Nanti Saya Akan Sedekah… Pak Kyai…!!!
Malam itu di sebuah pesantren yatim-piatu di Jawa Timur seorang
Pengusaha datang bersilaturahmi ke Kyai pengasuh pesantren. Dia memang
mempunyai yang ingin coba dibagi dengan Pak Kyai.
Sejurus kemudian berlangsunglah pembicaraan antara keduanya.
“Pak Kyai, saya datang ke sini mau minta bantu doa agar hajat saya dikabulkan oleh Allah SWT.” ujar si Pengusaha.
“Memangnya saudara sedang punya hajat apa?” tanya Pak Kyai ringan.
“Begini Pak Kyai…, saya ini punya usaha di bidang migas. Saya sedang ikut tender di Riau. Doakan agar saya bisa menang tender…!” jelas si Pengusaha.
“Hmmmmm…” Pak Kyai hanya bergumam tanpa sedikit pun memberi tanggapan.
Entah apa gerangan, mungkin untuk meyakinkan Pak Kyai, tiba-tiba si Pengusaha menambahkan, “Tolong doakan saya dalam tender ini Pak Kyai, insyaAllah seandainya saya menang tender, pasti saya akan bersedekah ke pesantren ini!”
Dahi Pak Kyai berkernyit mendengarnya. Raut muka beliau terlihat sepertinya aga tersinggung dengan pernyataan si Pengusaha.
Menanggapi pernyataan si Pengusaha, Pak Kyai yang asli Madura bertanya, “Sampeyan hafal surat Al-Fatihah…?!” Si Pengusaha menjawab bahwa ia hafal.
“Tolong bacakan surat Al-Fatihah itu!” pinta Pak Kyai.
“Memangnya ada apa Pak Kyai, kok tiba-tiba ingin mendengar saya baca Al-Fatihah?!” tanya si Pengusaha.”
“Sudah baca saja… Saya mau dengar!” tukas Pak Kyai.
Maka, sang Pengusaha itu pun mulai membaca surat pertama Al-Qur’an.
“Bismillahirrahmanirrahim…”
“…Alhamdulillahi rabbil alamiin… Ar rahmaanir rahiim… Maliki yaumiddiin… Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin…”
“Sudah-sudah cukup…, berhenti sampai di situ!” pinta Pak Kyai.
Si Pengusaha pun menghentikan bacaan.
“Ayat yang terakhir sampeyan baca itu mengerti tidak maksudnya?!” tanya Pak Kyai.
“Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin…, Pak Kyai?” tanya si Pengusaha menegaskan.
“Ya, yang itu!” jawab Pak Kyai.
“Oh itu, saya sudah tahu artinya… Kepada-Mu ya Allah kami mengabdi… kepada-Mu ya Allah kami memohon pertolongan!” tandas si Pengusaha.
Pak kyai lalu berujar enteng, “Oh, rupanya masih sama Al-Fatihah sampeyan dengan saya punya!”
Si pengusaha memperlihatkan raut kebingungan di wajahnya. “Maksud Pak Kyai…?!” tanya si Pengusaha heran.
“Saya kira Al-Fatihah sampeyan sudah terbalik menjadi iyyaka nasta’iin wa iyyaka na’budu!” jawab Pak Kyai.
Si Pengusaha malah bertambah bingung mendengar penjelasan pak kyai, ia pun berkata, “Saya masih belum mengerti Pak Kyai!”
Pak Kyai tersenyum melihat kebingungan si Pengusaha, beliau pun menjelaskan, “Tadi sampeyan bilang kalau menang tender maka sampeyan akan sedekah ke pesantren ini. Menurut saya itu mah iyyaka nasta’iin wa iyyaka na’budu. Kalau Al-Fatihah sampeyan ga terbalik, pasti sampeyan sedekah dulu ke pesantren ini, insyaAllah pasti menang tender!”
Deggg! Keras sekali smash sindiran menghujam jantung hati si Pengusaha.
Ba’da dzuhur esok harinya, handphone Pak Kyai berdering. Rupanya si Pengusaha tadi malam.
“Mohon dicek Pak Kyai, saya barusan sudah transfer ke rekening pesantren,” kata si Pengusaha, sambil pamit lalu menutup telepon.
Sejurus kemudian Pak Kyai pergi ke bank membawa buku tabungan.
Usai dicetak lalu dicek, matanya terbelalak melihat angka 2 dan deretan angka 0 yang amat panjang. Hingga Pak Kyai merasa sulit memastikan jumlah uang yang ditransfer.
Pak Kyai pun bertanya kepada teller bank, “Mbak, tolong bantu saya berapa dana yang ditransfer ke rekening saya ini?”
Sang teller menjawab, “Ini nilainya 200 juta, Pak Kyai!”
Pak Kyai pun begitu sumringah. Seumur-umur baru kali ini ada orang menyumbang sebanyak itu ke Pesantrennya,berulang kali ucapan hamdalah terdengar dari lisannya.
Malamnya lepas maghrib, Pak Kyai mengumpulkan seluruh ustadz dan santri di pesantren yatim-piatu itu.
Mereka membaca Al-Qur’an, dzikir & doa yang panjang untuk hajat yang ingin dicapai oleh si Pengusaha.
Arsy Allah SWT malam itu mungkin bergetar. Pintu-pintu langit mungkin terbuka, sebab doa yang dipanjatkan oleh Pak Kyai & para santri yatim-piatu begitu khusyuk…
Seminggu berselang si Pengusaha menelpon Pak Kyai.
“Pak kyai, saya ingin mengucapkan terima kasih atas doanya tempo hari. Alhamdulillah, baru saja saya mendapat kabar bahwa perusahaan saya menang tender dengan nilai proyek yang cukup besar!”
Mendengar itu, Pak Kyai turut bersyukur kepada Allah SWT. Ia lalu bertanya, “Berapa nilai tender yang didapat?!”
“Alhamdulillah, nilainya Rp 9,8 milyar!” jawab si Pengusaha.
Subhanallah, begitu cepat dan besar balasan Allah yang diterima Pengusaha itu.
Alhamdulillah, baru saja saya mendapat kabar bahwa perusahaan saya menang tender dengan nilai proyek yang cukup besar!”
Sejurus kemudian berlangsunglah pembicaraan antara keduanya.
“Pak Kyai, saya datang ke sini mau minta bantu doa agar hajat saya dikabulkan oleh Allah SWT.” ujar si Pengusaha.
“Memangnya saudara sedang punya hajat apa?” tanya Pak Kyai ringan.
“Begini Pak Kyai…, saya ini punya usaha di bidang migas. Saya sedang ikut tender di Riau. Doakan agar saya bisa menang tender…!” jelas si Pengusaha.
“Hmmmmm…” Pak Kyai hanya bergumam tanpa sedikit pun memberi tanggapan.
Entah apa gerangan, mungkin untuk meyakinkan Pak Kyai, tiba-tiba si Pengusaha menambahkan, “Tolong doakan saya dalam tender ini Pak Kyai, insyaAllah seandainya saya menang tender, pasti saya akan bersedekah ke pesantren ini!”
Dahi Pak Kyai berkernyit mendengarnya. Raut muka beliau terlihat sepertinya aga tersinggung dengan pernyataan si Pengusaha.
Menanggapi pernyataan si Pengusaha, Pak Kyai yang asli Madura bertanya, “Sampeyan hafal surat Al-Fatihah…?!” Si Pengusaha menjawab bahwa ia hafal.
“Tolong bacakan surat Al-Fatihah itu!” pinta Pak Kyai.
“Memangnya ada apa Pak Kyai, kok tiba-tiba ingin mendengar saya baca Al-Fatihah?!” tanya si Pengusaha.”
“Sudah baca saja… Saya mau dengar!” tukas Pak Kyai.
Maka, sang Pengusaha itu pun mulai membaca surat pertama Al-Qur’an.
“Bismillahirrahmanirrahim…”
“…Alhamdulillahi rabbil alamiin… Ar rahmaanir rahiim… Maliki yaumiddiin… Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin…”
“Sudah-sudah cukup…, berhenti sampai di situ!” pinta Pak Kyai.
Si Pengusaha pun menghentikan bacaan.
“Ayat yang terakhir sampeyan baca itu mengerti tidak maksudnya?!” tanya Pak Kyai.
“Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin…, Pak Kyai?” tanya si Pengusaha menegaskan.
“Ya, yang itu!” jawab Pak Kyai.
“Oh itu, saya sudah tahu artinya… Kepada-Mu ya Allah kami mengabdi… kepada-Mu ya Allah kami memohon pertolongan!” tandas si Pengusaha.
Pak kyai lalu berujar enteng, “Oh, rupanya masih sama Al-Fatihah sampeyan dengan saya punya!”
Si pengusaha memperlihatkan raut kebingungan di wajahnya. “Maksud Pak Kyai…?!” tanya si Pengusaha heran.
“Saya kira Al-Fatihah sampeyan sudah terbalik menjadi iyyaka nasta’iin wa iyyaka na’budu!” jawab Pak Kyai.
Si Pengusaha malah bertambah bingung mendengar penjelasan pak kyai, ia pun berkata, “Saya masih belum mengerti Pak Kyai!”
Pak Kyai tersenyum melihat kebingungan si Pengusaha, beliau pun menjelaskan, “Tadi sampeyan bilang kalau menang tender maka sampeyan akan sedekah ke pesantren ini. Menurut saya itu mah iyyaka nasta’iin wa iyyaka na’budu. Kalau Al-Fatihah sampeyan ga terbalik, pasti sampeyan sedekah dulu ke pesantren ini, insyaAllah pasti menang tender!”
Deggg! Keras sekali smash sindiran menghujam jantung hati si Pengusaha.
Ba’da dzuhur esok harinya, handphone Pak Kyai berdering. Rupanya si Pengusaha tadi malam.
“Mohon dicek Pak Kyai, saya barusan sudah transfer ke rekening pesantren,” kata si Pengusaha, sambil pamit lalu menutup telepon.
Sejurus kemudian Pak Kyai pergi ke bank membawa buku tabungan.
Usai dicetak lalu dicek, matanya terbelalak melihat angka 2 dan deretan angka 0 yang amat panjang. Hingga Pak Kyai merasa sulit memastikan jumlah uang yang ditransfer.
Pak Kyai pun bertanya kepada teller bank, “Mbak, tolong bantu saya berapa dana yang ditransfer ke rekening saya ini?”
Sang teller menjawab, “Ini nilainya 200 juta, Pak Kyai!”
Pak Kyai pun begitu sumringah. Seumur-umur baru kali ini ada orang menyumbang sebanyak itu ke Pesantrennya,berulang kali ucapan hamdalah terdengar dari lisannya.
Malamnya lepas maghrib, Pak Kyai mengumpulkan seluruh ustadz dan santri di pesantren yatim-piatu itu.
Mereka membaca Al-Qur’an, dzikir & doa yang panjang untuk hajat yang ingin dicapai oleh si Pengusaha.
Arsy Allah SWT malam itu mungkin bergetar. Pintu-pintu langit mungkin terbuka, sebab doa yang dipanjatkan oleh Pak Kyai & para santri yatim-piatu begitu khusyuk…
Seminggu berselang si Pengusaha menelpon Pak Kyai.
“Pak kyai, saya ingin mengucapkan terima kasih atas doanya tempo hari. Alhamdulillah, baru saja saya mendapat kabar bahwa perusahaan saya menang tender dengan nilai proyek yang cukup besar!”
Mendengar itu, Pak Kyai turut bersyukur kepada Allah SWT. Ia lalu bertanya, “Berapa nilai tender yang didapat?!”
“Alhamdulillah, nilainya Rp 9,8 milyar!” jawab si Pengusaha.
Subhanallah, begitu cepat dan besar balasan Allah yang diterima Pengusaha itu.
Alhamdulillah, baru saja saya mendapat kabar bahwa perusahaan saya menang tender dengan nilai proyek yang cukup besar!”
Menolak ‘Zulaikha’ Sejantan Yusuf
Suatu sore ana pernah melihat segerombolan muda-mudi, yang terdiri dari satu orang pria yang dikelilingi oleh para wanita.
Saat itu terlihat pria yang seorang diri itu seperti sedang dirayu oleh para wanita tersebut. Ana jadi ingat salah satu dari tujuh golongan yang dijamin Allah masuk surga ialah Seorang lelaki yang dirayu oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan dan kecantikan tetapi ia menolaknya seraya berkata ‘Aku takut kepada Allah’, tapi ana rasa adakah kisah seperti itu pada zaman ini setelah kisah nabi Yusuf yang mulia?
Kisah nabi Yusuf itu sungguh menakjubkan. Seorang pria shalih yang menolak dengan tegas seorang wanita cantik jelita yaitu Zulaikha. Ana benar-benar kagum. Dan kekaguman ana semakin bertambah, ketika ana membaca sebuah kisah yang tak kalah mengagumkan dengan kisahnya nabi Yusuf yang mulia. Kisahnya seperti ini,
Diceritakan Sulaiman ibn Yasar, demikian Al-Ghazali mengisahkan dalam Al-Ihya’, adalah seorang laki-laki yang dikenali paling tampan di zamannya. Satu waktu, bersama sahabatnya, dia berangkat menunaikan haji ke Mekah, di kota kecil bernama Abwa, tempat makam ibunda Sang Nabi berada, mereka beristirahat.
Setelah selesai makan, sang kawan meminta izin pergi berbelanja beberapa bekal perjalanan. Sulaiman ibn Yasar duduk sendiri di kemahnya. Dari kejauhan, seorang perempuan Badui yang cantik memperhatikannya. Wanita itu begitu terpesona pada paras Sulaiman. Dia turun dari ketinggian dan menghampiri kemah itu, lalu meminta izin masuk.
“Apa keperluanmu?” Tanya Sulaiman sembari menahan pandangan pada wanita cantik itu.
“Senangkanlah aku!” jawabnya.
Sulaiman pun membuka bekal makanannya dan menyerahkan semua makanan yang tersisa pada wanita itu. Dia mengira itulah yang dikehendaki sang perempuan gurun.
“Aku tidak menghendaki makanan,” ujar si Perempuan gurun sambil tersenyum. “Aku menginginkan apa yang biasa dilakukan seorang suami kepada istrinya.”
“Jadi Iblis yang telah mengutusmu padaku!” teriak Sulaiman.
Dia meletakkan wajah di antara kedua lututnya kemudian menjerit meraung-raung. Tangisnya begitu keras dan pilu. Perempuan gurun itu terkejut dan ketakutan dibuatnya. Dia berlari dan kembali kepada keluarganya.
Tak lama kemudian sang kawan pulang. Didapatinya mata Sulaiman merah sembab dan dia masih terisak-isak.
“Ada apa denganmu, demi Allah?’ Tanya kawannya itu.
Sulaiman pun menjelaskan kejadiannya dan mengisahkan kedatangan wanita Badui yang cantik itu. Mendengar cerita Sulaiman, kini sang kawan yang menangis keras-keras. Dia menutupkan kedua tangan ke wajahnya.
“Hei, mengapa kini engkau yang menangis?”
“Demi Allah, wahai Sulaiman,” ujarnya disela senggugu, “Aku lebih pantas menangis daripada dirimu. Aku sangat takut sekiranya aku yang diuji Allah dengan cara demikian. Aku khawatir jika aku yang mengalami kejadian ini, dan aku takkan mampu menahan hawa nafsuku sebagaimana yang kau lakukan.”
Mereka pun bertangisan.
Setibanya di Mekah, Sulaiman ibn Yasar melakukan thawaf, sa’i, dan menyelesaikan umrahnya. Setelah itu dia pun menghampiri Hijr Isma’il dan duduk berselonjor hingga dipagut kantuk. Dia tertidur dan bermimpi. Dalam mimpi, dia melihat dirinya didatangi oleh seorang lelaki yang tinggi, tegap, dan sangat tampan. Bau tubuhnya begitu harum dan semerbak mewangi.
“Semoga Allah menyayangimu, siapakah engkau?”
“Aku adalah Yusuf,” kata sosok itu.
“Yusuf As-shiddiq? Nabi yang sangat setia?”
“Benar,” beliau mengangguk.
“Demi Allah, dalam peristiwa antara engkau dan istri pejabat negeri Mesir itu adalah hal yang menakjubkan.”
Nabi Yusuf tersenyum. “Bahkan,” kata beliau ‘Alaihis Salaam pada Sulaiman ibn Yasar,
“Kejadian antara engkau dan wanita Abwa itu jauh lebih mengagumkan.”
***
Subhanallah.
Mengapa Nabi Yusuf berkata demikian? Mungkin karena Sulaiman ibn Yasar bukanlah seorang Rasul seperti dia yang diberikan keistimewaan-keistimewaan oleh Allah.
Sanggupkah kita seperti mereka? Bersama bimbingan-Nya, Jawabannya Ya. Bukankah orang-orang di atas ialah orang-orang yang hidup di masa kekhalifahan, akan lebih menakjubkan lagi jika kita yang hidup di zaman yang jauh dari masa-masa kenabian ini, tetapi kita menjaga hawa nafsu serta berusaha menjadi golongan yang dijamin masuk surga tersebut.
Dan jangan heran jika kisah kita akan jauh lebih mengesankan, jika kita dapat berpegang teguh melawan nafsu kita, menjadi pemuda-pemudi yang tegas menolak ancaman godaan arus zaman atas izin Allah… Semoga.
Aamiin.
Oleh : Sonia Faiqah
Saat itu terlihat pria yang seorang diri itu seperti sedang dirayu oleh para wanita tersebut. Ana jadi ingat salah satu dari tujuh golongan yang dijamin Allah masuk surga ialah Seorang lelaki yang dirayu oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan dan kecantikan tetapi ia menolaknya seraya berkata ‘Aku takut kepada Allah’, tapi ana rasa adakah kisah seperti itu pada zaman ini setelah kisah nabi Yusuf yang mulia?
Kisah nabi Yusuf itu sungguh menakjubkan. Seorang pria shalih yang menolak dengan tegas seorang wanita cantik jelita yaitu Zulaikha. Ana benar-benar kagum. Dan kekaguman ana semakin bertambah, ketika ana membaca sebuah kisah yang tak kalah mengagumkan dengan kisahnya nabi Yusuf yang mulia. Kisahnya seperti ini,
Diceritakan Sulaiman ibn Yasar, demikian Al-Ghazali mengisahkan dalam Al-Ihya’, adalah seorang laki-laki yang dikenali paling tampan di zamannya. Satu waktu, bersama sahabatnya, dia berangkat menunaikan haji ke Mekah, di kota kecil bernama Abwa, tempat makam ibunda Sang Nabi berada, mereka beristirahat.
Setelah selesai makan, sang kawan meminta izin pergi berbelanja beberapa bekal perjalanan. Sulaiman ibn Yasar duduk sendiri di kemahnya. Dari kejauhan, seorang perempuan Badui yang cantik memperhatikannya. Wanita itu begitu terpesona pada paras Sulaiman. Dia turun dari ketinggian dan menghampiri kemah itu, lalu meminta izin masuk.
“Apa keperluanmu?” Tanya Sulaiman sembari menahan pandangan pada wanita cantik itu.
“Senangkanlah aku!” jawabnya.
Sulaiman pun membuka bekal makanannya dan menyerahkan semua makanan yang tersisa pada wanita itu. Dia mengira itulah yang dikehendaki sang perempuan gurun.
“Aku tidak menghendaki makanan,” ujar si Perempuan gurun sambil tersenyum. “Aku menginginkan apa yang biasa dilakukan seorang suami kepada istrinya.”
“Jadi Iblis yang telah mengutusmu padaku!” teriak Sulaiman.
Dia meletakkan wajah di antara kedua lututnya kemudian menjerit meraung-raung. Tangisnya begitu keras dan pilu. Perempuan gurun itu terkejut dan ketakutan dibuatnya. Dia berlari dan kembali kepada keluarganya.
Tak lama kemudian sang kawan pulang. Didapatinya mata Sulaiman merah sembab dan dia masih terisak-isak.
“Ada apa denganmu, demi Allah?’ Tanya kawannya itu.
Sulaiman pun menjelaskan kejadiannya dan mengisahkan kedatangan wanita Badui yang cantik itu. Mendengar cerita Sulaiman, kini sang kawan yang menangis keras-keras. Dia menutupkan kedua tangan ke wajahnya.
“Hei, mengapa kini engkau yang menangis?”
“Demi Allah, wahai Sulaiman,” ujarnya disela senggugu, “Aku lebih pantas menangis daripada dirimu. Aku sangat takut sekiranya aku yang diuji Allah dengan cara demikian. Aku khawatir jika aku yang mengalami kejadian ini, dan aku takkan mampu menahan hawa nafsuku sebagaimana yang kau lakukan.”
Mereka pun bertangisan.
Setibanya di Mekah, Sulaiman ibn Yasar melakukan thawaf, sa’i, dan menyelesaikan umrahnya. Setelah itu dia pun menghampiri Hijr Isma’il dan duduk berselonjor hingga dipagut kantuk. Dia tertidur dan bermimpi. Dalam mimpi, dia melihat dirinya didatangi oleh seorang lelaki yang tinggi, tegap, dan sangat tampan. Bau tubuhnya begitu harum dan semerbak mewangi.
“Semoga Allah menyayangimu, siapakah engkau?”
“Aku adalah Yusuf,” kata sosok itu.
“Yusuf As-shiddiq? Nabi yang sangat setia?”
“Benar,” beliau mengangguk.
“Demi Allah, dalam peristiwa antara engkau dan istri pejabat negeri Mesir itu adalah hal yang menakjubkan.”
Nabi Yusuf tersenyum. “Bahkan,” kata beliau ‘Alaihis Salaam pada Sulaiman ibn Yasar,
“Kejadian antara engkau dan wanita Abwa itu jauh lebih mengagumkan.”
***
Subhanallah.
Mengapa Nabi Yusuf berkata demikian? Mungkin karena Sulaiman ibn Yasar bukanlah seorang Rasul seperti dia yang diberikan keistimewaan-keistimewaan oleh Allah.
Sanggupkah kita seperti mereka? Bersama bimbingan-Nya, Jawabannya Ya. Bukankah orang-orang di atas ialah orang-orang yang hidup di masa kekhalifahan, akan lebih menakjubkan lagi jika kita yang hidup di zaman yang jauh dari masa-masa kenabian ini, tetapi kita menjaga hawa nafsu serta berusaha menjadi golongan yang dijamin masuk surga tersebut.
Dan jangan heran jika kisah kita akan jauh lebih mengesankan, jika kita dapat berpegang teguh melawan nafsu kita, menjadi pemuda-pemudi yang tegas menolak ancaman godaan arus zaman atas izin Allah… Semoga.
Aamiin.
Oleh : Sonia Faiqah
Terusan Suez Adalah Karya Master Piece Umar bin Khattab
Banyak yang belum tahu , bahwa ternyata Terusan Suez ternyata adalah
sebuah karya agung berdasar ide dan gagasan cemerlang sekaligus
membuktikan kejeniusan Amirul Mukminin Umar Bin Khaththab
raddiyallahu’anhu. Ide jenius beliau menghubungkan Laut Merah dan Laut
Putih Tengah karena adanya berbagai potensi domestik yang sudah dikenal
pada zamannya. Juga kejeniusan beliau patut kita berbangga karenanya,
adalah kemampuan beliau mewujudkan proyek tersebut dalam waktu relatif
singkat sehingga terusan tersebut bisa dilalui oleh kapal-kapal.
Di musim dingin tahun 641-642 M, Amru bin Ash ra. membuka terusan yang menghubungkan antara laut Qalzim dengan Laut Romawi atau di posisinya sekarang, dikenal dengan nama Terusan Amirul Mukminin.
Al Qadha’i bercerita, Umar bin Khattab ra. menginstruksikan pada Amru bin Ash ra. pada saat musim paceklik untuk mengeruk teluk yang berada di samping Fusthath kemudian dialiri air sungai Nil hingga laut Qalzim.
Belum setahun, teluk inipun sudah bisa dilalui oleh kapal dan digunakan untuk mengangkut logistik ke Mekkah dan Madinah. Teluk ini juga dimanfaatkan penduduk dua tanah suci itu hingga disebut Teluk Amirul Mukminin.
Al Kindi bertutur bahwa teluk tsb dikeruk pada tahun 32 H dan selesai hanya dalam waktu 6 bulan. Kapal-kapal sudah bisa lalu lalang menyusuri teluk hingga sampai di Hijaz bulan ke tujuhnya.
Terusan ini sangat membantu penduduk Mesir hingga era Khalifah Abu Ja’far Al Manshur , yang dibendungnya untuk memutus aliran dan dukungan Mesir terhadap perlawanan Muhammad bin Abdullah bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib di Hijaz.
Sebagian sejarah juga menyebut, bahwa Amru bin Ash telah memikirkan untuk menghubungkan 2 laut putih dan Merah , namun tampaknya yang dimaksud adalah terusan lain, yang membelah antara Selat Timsah dengan Barzah, antara Mesir dan Sinai hingga Laut Tengah. Tapi rencana ini dibatalkan karena alasan pertimbangan militer yang ada pada zaman itu.
Pada masa Khilafah Utsmaniyyah, teluk ini dibersihkan tiap tahun. Musim dingin, teluk ini biasanya ditutup karena dikeruk dan dibersihkan seperti perayaan. (biasanya bulan Agustus). Lumpur yang dikeruk lalu diangkat dan ditimbun di samping kanan-kiri aliran teluk. dan ini sungguh menarik perhatian penduduk setempat.
Sumber : mediaumat.com
Di musim dingin tahun 641-642 M, Amru bin Ash ra. membuka terusan yang menghubungkan antara laut Qalzim dengan Laut Romawi atau di posisinya sekarang, dikenal dengan nama Terusan Amirul Mukminin.
Al Qadha’i bercerita, Umar bin Khattab ra. menginstruksikan pada Amru bin Ash ra. pada saat musim paceklik untuk mengeruk teluk yang berada di samping Fusthath kemudian dialiri air sungai Nil hingga laut Qalzim.
Belum setahun, teluk inipun sudah bisa dilalui oleh kapal dan digunakan untuk mengangkut logistik ke Mekkah dan Madinah. Teluk ini juga dimanfaatkan penduduk dua tanah suci itu hingga disebut Teluk Amirul Mukminin.
Al Kindi bertutur bahwa teluk tsb dikeruk pada tahun 32 H dan selesai hanya dalam waktu 6 bulan. Kapal-kapal sudah bisa lalu lalang menyusuri teluk hingga sampai di Hijaz bulan ke tujuhnya.
Terusan ini sangat membantu penduduk Mesir hingga era Khalifah Abu Ja’far Al Manshur , yang dibendungnya untuk memutus aliran dan dukungan Mesir terhadap perlawanan Muhammad bin Abdullah bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib di Hijaz.
Sebagian sejarah juga menyebut, bahwa Amru bin Ash telah memikirkan untuk menghubungkan 2 laut putih dan Merah , namun tampaknya yang dimaksud adalah terusan lain, yang membelah antara Selat Timsah dengan Barzah, antara Mesir dan Sinai hingga Laut Tengah. Tapi rencana ini dibatalkan karena alasan pertimbangan militer yang ada pada zaman itu.
Pada masa Khilafah Utsmaniyyah, teluk ini dibersihkan tiap tahun. Musim dingin, teluk ini biasanya ditutup karena dikeruk dan dibersihkan seperti perayaan. (biasanya bulan Agustus). Lumpur yang dikeruk lalu diangkat dan ditimbun di samping kanan-kiri aliran teluk. dan ini sungguh menarik perhatian penduduk setempat.
Sumber : mediaumat.com
Menyingkap Mengabaran Yesus Soal Nabi Muhammad SAW
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Kabar mengenai Muhammad yang diutus menjadi nabi telah lama dikabarkan Yesus. Keterangan ini terdapat pada sebuah Bibel berumur 1.500 tahun. Kitab ini tersimpan di Turki selama 12 tahun terakhir ini. Menteri Budaya dan Wisata Turki Ertugrul Gunay mengatakan, Vatikan menyatakan tertarik dan Paus Benediktur XVI ingin melihatnya.
Gunay yang dikutip Daily Mail, Ahad (26/2), menjelaskan kitab yang bernilai hingga 22 juta dolar AS ini berisi prediksi Yesus mengenai kedatangan Muhammad. Namun, bertahun-tahun informasi mengenai hal tersebut dibendung. “Sejalan dengan pandangan Islam, kitab ini menjelaskan Yesus sebagai manusia bukan Tuhan,” ujarnya.
Dengan demikian, jelas Gunay, isinya menolak konsep trinitas. Disebutkan bahwa Yesus atau Isa pernah ditanya oleh seorang pendeta menganai siapa yang dinyatakan sebagai mesiah. Ia menjawab, Muhammad adalah nama yang diberkati. Pada bagian lainnya, Yesus menepis jika dirinya adalah sang mesiah, sebaliknya ia merujuk pada keturunan Ismail.
Laporan Daily Mail menyebutkan, Muslim mengklaim kitab yang disebut Gospel of Barnabasitu merupakan kitab lain dari empat kitab yang ada, yaitu Markus, Matius, Lukas, dan Yohanes. Barnabas secara tradisional dikenal sebagai pendiri gereja pada masa awal Kristen. Gunay menambah kan, Vatikan telah menyampaikan permintaan resmi untuk melihatnya.
Ia mengisahkan, kitab itu ditemukan saat terjadi operasi antipenye lundupan pada 2000. Pihak berwenang Turki menyitanya dari sebuah jaringan penyelundup yang dikenal menyelundupkan berbagai barang berharga, termasuk Bibel dan artefak. Saat ini, Bibel dan artefak itu disimpan di pengadilan Ankara sebagai barang bukti.
Menurut Gunay, selanjutnya barang itu diserahkan ke Ankara Ethnography Museum dan di perlihatkan kepada publik. Meski, ada keraguan mengenai keaslian Bibel yang disimpan di An kara itu. Ihsan Ozbek, seorang pastor Protestan, mengatakan, versi kitab ini dalam keterangan Gunay berasal dari abad kelima atau keenam Masehi, padahal, ucap dia, Barnabas hidup pada abad pertama.
“Salinan Bibel di Ankara kemungkinan ditulis oleh salah satu pengikut Barnabas,” kata Ozbek kepada surat kabar Turki, Today Zaman. Karena ada jeda waktu 500 tahun antara masa kehidup an Barnabas dan penulisan salinan kitab, imbuh dia, Muslim bisa jadi akan kecewa karena salinan itu tak terkait dengan keyakinan mengenai apa yang ingin mereka temukan dalam Bibel.
Ia menyimpulkan, tak ada kaitan antara salinan di Ankara dengan isi Gospel of Barnabas. Tapi, semuanya akan segera terungkap melalui pembuktian dengan menggunakan teknologi. Profesor teologi, Omer Faruk Harman, mengatakan, umur sebenarnya dari Bibel itu dapat ter singkap dengan metode sainstifik dan tentu akan diketahui siapa yang menulisnya, Barnabas atau pengikutnya.
Kabar mengenai Muhammad yang diutus menjadi nabi telah lama dikabarkan Yesus. Keterangan ini terdapat pada sebuah Bibel berumur 1.500 tahun. Kitab ini tersimpan di Turki selama 12 tahun terakhir ini. Menteri Budaya dan Wisata Turki Ertugrul Gunay mengatakan, Vatikan menyatakan tertarik dan Paus Benediktur XVI ingin melihatnya.
Gunay yang dikutip Daily Mail, Ahad (26/2), menjelaskan kitab yang bernilai hingga 22 juta dolar AS ini berisi prediksi Yesus mengenai kedatangan Muhammad. Namun, bertahun-tahun informasi mengenai hal tersebut dibendung. “Sejalan dengan pandangan Islam, kitab ini menjelaskan Yesus sebagai manusia bukan Tuhan,” ujarnya.
Dengan demikian, jelas Gunay, isinya menolak konsep trinitas. Disebutkan bahwa Yesus atau Isa pernah ditanya oleh seorang pendeta menganai siapa yang dinyatakan sebagai mesiah. Ia menjawab, Muhammad adalah nama yang diberkati. Pada bagian lainnya, Yesus menepis jika dirinya adalah sang mesiah, sebaliknya ia merujuk pada keturunan Ismail.
Laporan Daily Mail menyebutkan, Muslim mengklaim kitab yang disebut Gospel of Barnabasitu merupakan kitab lain dari empat kitab yang ada, yaitu Markus, Matius, Lukas, dan Yohanes. Barnabas secara tradisional dikenal sebagai pendiri gereja pada masa awal Kristen. Gunay menambah kan, Vatikan telah menyampaikan permintaan resmi untuk melihatnya.
Ia mengisahkan, kitab itu ditemukan saat terjadi operasi antipenye lundupan pada 2000. Pihak berwenang Turki menyitanya dari sebuah jaringan penyelundup yang dikenal menyelundupkan berbagai barang berharga, termasuk Bibel dan artefak. Saat ini, Bibel dan artefak itu disimpan di pengadilan Ankara sebagai barang bukti.
Menurut Gunay, selanjutnya barang itu diserahkan ke Ankara Ethnography Museum dan di perlihatkan kepada publik. Meski, ada keraguan mengenai keaslian Bibel yang disimpan di An kara itu. Ihsan Ozbek, seorang pastor Protestan, mengatakan, versi kitab ini dalam keterangan Gunay berasal dari abad kelima atau keenam Masehi, padahal, ucap dia, Barnabas hidup pada abad pertama.
“Salinan Bibel di Ankara kemungkinan ditulis oleh salah satu pengikut Barnabas,” kata Ozbek kepada surat kabar Turki, Today Zaman. Karena ada jeda waktu 500 tahun antara masa kehidup an Barnabas dan penulisan salinan kitab, imbuh dia, Muslim bisa jadi akan kecewa karena salinan itu tak terkait dengan keyakinan mengenai apa yang ingin mereka temukan dalam Bibel.
Ia menyimpulkan, tak ada kaitan antara salinan di Ankara dengan isi Gospel of Barnabas. Tapi, semuanya akan segera terungkap melalui pembuktian dengan menggunakan teknologi. Profesor teologi, Omer Faruk Harman, mengatakan, umur sebenarnya dari Bibel itu dapat ter singkap dengan metode sainstifik dan tentu akan diketahui siapa yang menulisnya, Barnabas atau pengikutnya.
Langganan:
Postingan (Atom)
